Hari Raya Idul Fitri yang dirayakan setiap setahun sekali mempunyai banyak sekali warna dan cerita untuk setiap orang yang menjalaninya. Mudik yang menjadi ciri khas Hari Raya Idul Fitri merupakan suatu perjalanan sarat makna spirituil dan rekreatif. Para pemudik telah menempuh perjalanan jauh yang memerlukan dukungan penuh pembiayaan transportasi, kenyamanan selama perjalanan dan tuntutan daya tahan fisik selama melaksanakan perjalanan tersebut. Luapan rasa gembira akan bertemu dengan orang tua, sanak saudara dan para sahabat mampu melunturkan semua rasa lelah di dalam perjalanan.

Bumi Massenrempulu Sebagai Pengikat Jiwa

Enrekang merupakan salah satu Kabupaten di Sulawesi Selatan, terkenal dengan julukan Bumi Massenrempulu karena daerah ini berada di antara budaya Bugis, Toraja dan Mandar.  Jaraknya tempuh ke Enrekang sekitar 255 km melalui jalur darat dari kota Makassar. Ibuku dilahirkan di Kalosi, salah satu daerah penghasil salak dan sayuran dataran tinggi di Enrekang. Perjalanan ke tempat kelahiran Ibuku dapat menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat (mobil pribadi, rental dan bus). Perjalanan  menuju ke Enrekang melalui jalan poros Sulawesi melewati beberapa Kabupaten yaitu: Maros, Pangkep, Barru, Pare-Pare, Sidrap dan Enrekang. Jalur yang sama juga dilalui oleh pelancong yang ingin melakukan tamasya ke Tana Toraja.

I love my family

Kami melakukan perjalanan mudik ke Enrekang sehari sebelum Hari Raya Idul Fitri  dengan menggunakan mobil pribadi. Kami berangkat pagi hari saat matahari masih mengintip malu-malu dari peraduannya. Mobil yang membawa kami mudik berjalan perlahan karena jalanan macet. Semua pemudik yang saat itu berada di jalan mempunyai pemikiran harus tiba di tempat tujuan sebelum fajar menyingsing menandakan masuknya tanggal 1 Syawal 1444 H. Enrekang dengan topografinya yang tersusun dari lembah dan gunung memang membutuhkan teknik tersendiri untuk melintasinya. Mabuk darat merupakan hal yang lazim karena tidak semua orang tahan duduk berkendara selama berjam-jam di jalan bertikungan ekstrim dalam kondisi berpuasa. Perjalanan mudik ini  sungguh membutuhkan kesabaran ekstra karena paparan sinar matahari musim kemarau menemani sepanjang perjalanan. Namun rasa gembira akan tiba di kampung halaman dan bertemu kerabat yang dirindukan membuat kami semua menikmati perjalanan. Alhamdulillah perjalanan mudik kami selamat sampai tujuan setelah berjuang sekitar 7 jam dengan beberapa kali singgah beristirahat.

Bercerita tentang suasana Enrekang, khususnya di Kalosi, setelah meninggalnya Ambe dan Indo’ (ayah dan ibu dalam bahasa Enrekang), kami hanya bertemu para kerabat setahun sekali saat hari libur lebaran. Ambe dan Indo’ adalah panggilan untuk kedua orang tua ibuku yang bertinggal di Kalosi. Sekarang rumah yang menjadi saksi kelahiran Ibuku itu ditempati oleh kakak lelaki Ibu. Rumah warisan Ambe berbentuk rumah panggung terbuat dari kayu khas rumah suku Bugis yang berada di daerah Sulawesi Selatan. Kolong rumahnya multi fungsi antara lain: tempat menjemur pakaian, dijadikan sebagai tempat menaruh pupuk dan benih, mengangin-anginkan hasil pertanian (bawang merah, jagung, kacang-kacangan), tempat memelihara unggas berupa ayam dan ternak (kambing dan sapi).  Kabupaten Enrekang mempunyai topografi daerah dataran tinggi dan berhawa sejuk sehingga sangat cocok ditanami sayuran kentang, kubis/kol, wortel, seledri, bawang daun, bawang merah dan lain-lain. Iklim dan topografinya yang sesuai untuk perkembangan tanaman sayuran menjadikan Kabupaten Enrekang menjadi salah satu sentra pertanaman sayuran dataran tinggi yang penting di Provinsi Sulawesi Selatan.

Indahnya matahari terbit (Sri Nur Aminah , 2023)

Kuliner ‘Limited Edition’ Membuat Hati Merindu

Mudik ke kampung halaman kurang sreg rasanya jika tidak mencicipi kuliner khas daerah tersebut. Perlu diketahui bahwa, Kabupaten Enrekang mempunyai beberapa jenis makanan khas yang ‘limited edition’ karena kelangkaan bahannya maupun penyajiannya hanya pada waktu tertentu. Hal inilah menjadi alasan dilakukannya perjalanan mudik ke Enrekang menjadi begitu berwarna.  Secara umum Enrekang mempunyai beberapa macam kuliner khas yaitu: songkolo terbuat dari ketan atau pulu Mandoti (beras ketan lokal khas Enrekang berbau sangat harum), nasu cemba (masakan daging sapi bertabur daun cemba/semacam daun asam Jawa), sayur buraq (terbuat dari cacahan batang pisang muda), nasu likku/bundu-bundu atau ayam masak lengkuas, camme tuttu’/sayur daun singkong dan dangke (keju khas Kabupaten Enrekang yang terbuat dari susu). Umumnya nasu cemba melimpah jumlahnya saat Hari Raya Idul Adha karena masyarakat Enrekang yang ekonominya mampu beramai-ramai menyembelih sapi. Daging sapi yang dibagikan ke masyarakat yang kurang mampu segera diolah menjadi masakan nasu cemba yang sangat nikmat rasanya.

Suasana pasar yang masih sepi di hari lebaran (Sri Nur Aminah, 2023)

Enrekang merupakan daerah dataran tinggi sehingga masyarakat hanya mendapatkan protein hewani berasal dari susu dan daging hewan peliharaan. Boga bahari sangat langka ditemukan di sini. Kurangnya yodium yang terkandung dalam makanan yang dikonsumsi masyarakat menyebabkan banyak dijumpai penderita penyakit gondok. Hari pasar di Kalosi hanya diadakan selama dua kali dalam seminggu karena bergiliran dengan tempat lainnya. Umumnya pasar dimulai pada jam 06.00 pagi dan berakhir saat tiba sholat Dhuhur. Saat hari pasar, inilah kesempatan petani menjual produk kebunnya dan berinteraksi dengan warga lainnya di tempat tersebut. Di pasar itu dapat dijumpai berbagai macam pedagang hasil bumi, termasuk yang menjajakan ikan mas dan ikan air tawar lainnya. Pedagang yang membawa ikan segar berasal dari Kota Pare-Pare dan Kabupaten Sidrap yang berada di luar Enrekang.

Kembang kol dan aneka hasil kebun (Sri Nur Aminah, 2023)

Perjalanan mudik saat Hari Raya Idul Fitri memang kental dengan makna silaturrahim. Menikmati makanan bersama keluarga besar merupakan kesempatan membangun pondasi kokoh ikatan kekeluargaan yang tidak lekang dimakan waktu. Rutinitas pekerjaan sehari-hari berganti menjadi nuansa bahagia karena adanya suasana baru yang diperoleh setelah melakukan mudik ke kampung halaman. Bagaikan manusia yang lahir kembali dalam keadaan bersih setelah menjalani puasa di bulan Ramadan, begitupun dengan semangat baru yang diperoleh setelah bertemu dengan keluarga tercinta di kampung halaman (srn).

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!
👋 Hi, how can I help?