Pasar Kranggan Nan Elok

‘Don’t look at back’ adalah penyemangat untuk orang yang berniat move on dari sesuatu yang menyakitkan di dalam kehidupan. Mungkin penyemangat ini memberikan kesan kurang baik untuk orang yang selalu mengulang kenangan manis di masa lalu dan enggan berpindah dari zona nyaman tersebut. Saya mengambil sisi positif look at back untuk menuliskan kembali kenangan indah di suatu tempat yang pernah saya kunjungi. Saya melihat realitas orang yang tidak menuliskan pengalaman berkunjung ke suatu tempat, aromanya pasti hilang terbawa angin walaupun ada foto penunjang dia telah berada di sana. Setelah membaca tulisan bunda Susiyati tentang pasar Kranggan, nurani saya tergelitik karena tujuh tahun lalu saya pernah berada di tempat tersebut. Dipenuhi rasa penasaran, saya membongkar file lama yang tersimpan di Facebook. Alhamdulillah, ketemu tulisan jadul yang saya cari tertanggal 13 November 2020. Saya tertawa membaca betapa naif tulisan saya sebagai anak bawang di dunia literasi. Setelah bertelepon dengan Prof. Imam Robandi di bulan September tahun 2020, saya dimasukkan sebagai peserta grup WhatsApp IRo San Gumi OnlineClass, saya mengalami peningkatan luar biasa dalam menghasilkan karya. Kluweran warna ungu dan curahan motivasi tanpa henti dari Sensei kebanggaan IRo-Society selalu terngiang di dalam benakku. Itulah makna belajar sepanjang hidup, meningkatkan relasi, ilmu pengetahuan dari tidak menahu menjadi mengerti dan lebih berkualitas dalam menghasilkan karya. Sebelum mempunyai personal website, saya selalu menyimpan tulisan ke dalam google drive dan Facebook. Saya merasa sangat bersyukur semua fileku tersimpan rapi dan salah satunya dapat saya re-post disini.

Pasar Kranggan Yogyakarta (Susiyati, 4 Juli 2024)

Bermula dari tulisan bu Tri Mulyani tentang segarnya air banyu antah, yang disambung komentar beberapa orang ibu IRo-Society tentang pengalaman lampau berhubungan dengan air, kendi dan gentong. Tidak disangka, topik melebar ke ajakan pak Hery Setyawan kepada bu Erma menengok mas buaya yang suka nongkrong sore-sore di tepian sungai Mahakam. Tulisan bu Aprilia tentang guci dan gentong semakin menghangatkan suasana platforom grup WhatsApp IRo-Society. Sambil membaca isi chat yang ting tong ting tong bercampur dengan update kabar Kajian Spesial Jumat Malam, saya membongkar barang di lemari dan menemukan sang primadona yang kucari.

Sebagai alumni Netherlands Fellowship Programme (NFP) yang pernah mendapatkan beasiswa mengikuti international course di Wageningen University and Research, saya menerima undangan selama dua minggu menjadi peserta Refresher Course Designing Sustainable Horticulture Value Chain Toward a Food Secure Future yang diadakan di Yogyakarta pada tanggal 2 – 13 Oktober 2017. Di dalam waktu dua minggu menjalani Refresher Course, saya mendapat fasilitas menginap gratis di Hotel Harper Mangkubumi Yogyakarta yang menggoreskan begitu banyak kenangan sangat manis. Momen tidak terlupakan adalah bercanda dengan sahabat dari berbagai negara, belajar kebudayaan dan bahasa lokal masing-masing, saling bertukar suvenir, share resep makanan tradisional dan acara belanja belanji saat kelas sudah selesai.

Beberapa hari mendatang, Refresher Course akan usai. Saya ingin sekali membeli sebuah kendi untuk dibawa pulang ke kampung halaman. Walaupun banyak menghasilkan produk dari tanah liat, kendi merupakan barang sangat langka di kota Anging Mammiri. Produk tanah liat yang tersedia di kota Makassar adalah: tungku pemanggang ikan, celengan berbentuk buah manggis, wadah untuk campugi (ari-ari), pot bunga, bempa atau gumbang alias gentong. Sejak lama bempa telah menjadi wadah penampung air yang lazim ditemukan di beberapa kampung di Sulawesi Selatan. Posisi bempa berada pas di bawah tangga rumah panggung. Setiap orang wajib mencuci kaki dan tangan menggunakan air bempa sebelum naik ke rumah panggung. Sisa air yang berada di kulit kaki terasa sangat sejuk saat kaki melangkah naik ke atas rumah. Selain menjadi wadah penampung air, bempa berukuran besar juga digunakan untuk memasak coto Makassar menggunakan kayu bakar. Masakan yang dihasilkan luar biasa harumnya dibandingkan dengan masak menggunakan panci besi.

Kendi dari Pasar Kranggan (Sri Nur Aminah, 2020)

Kendi cantik ini adalah hasil perburuanku di Pasar Kranggan. Saat istirahat setelah lunch, saya menyelinap diam-diam keluar dari hotel, menyeberang jalan Mangkubumi dan belok kanan menuju ke jalan Pangeran Diponegoro nan ramai Tujuan saya hanya satu, mengunjungi pasar tradisional terdekat untuk mencari kendi. Setengah berlari saya menuju ke pasar yang berada di dekat Tugu Yogyakarta dan saya tidak menahu namanya. Tiba di depan pasar, mataku terpukau melihat aneka macam kendi yang berjajar rapi dalam kios. Saya memilih ukuran kendi yang paling mudah packing untuk dibawa pulang ke Makassar menaik pesawat. Selain menjual kendi aneka ukuran, ibu penjual juga menawarkan kemenyan cap kambing terbungkus plastik dan beberapa macam pernik berbau mistis untuk dijadikan koleksiku dari kota pelajar. Saya merasa agak horor, pertama kali melihat kemenyan dan tumpukan bunga tujuh rupa yang disimpan dalam wadah terbuat dari daun pisang. Saya tidak menjelajah sampai ke dalam pasar karena waktu yang sangat mepet sebelum kelas sore dimulai. Tujuan saya ke tempat ini hanya mampir untuk membeli kendi. Ternyata nama tempat itu adalah Pasar Kranggan.

Tibalah hari meninggalkan kota Yogyakarta. Saya merasa sangat sedih berpisah dengan suasana kota nan ramah. Sungguh luar biasa pengalaman yang telah saya peroleh selama dua minggu menjadi penghuni dadakan di kota pelajar. Saya sangat berterima kasih kepada Kedutaan Besar Kerajaan Belanda dan pengelola Netherlands Fellowship Programme yang telah memberikan kesempatan untuk alumni dari berbagai negara berkumpul di Yogyakarta. Sepanjang perjalanan mengudara dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, bungkusan kendi dari Pasar Kranggan kuletakkan di sela kakiku. Perjalanan sangat luar biasa dapat membawa pulang benda idaman (srn).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *