Cerita Tentang Sawah Impian

Kenanga membuka jendela kamar tidur saat matahari mulai beranjak dari peraduan. Sepasang bola mata indahnya terasa sejuk memandang hamparan sawah hijau royo-royo terbentang damai nun jauh di sana. Angin dingin pagi hari menyentil lembut wajah Kenanga yang kinclong terawat dengan bedak basah.
“Betapa indah dan subur negeriku,” gumam Kenanga dalam hatinya. Terdengar langkah kaki Mak memasuki kamar.
“Sedang apa kamu disitu?”
“Aku memandang hamparan sawah di sana. Alangkah bahagianya jika kita punya sawah sendiri. Mak dan Bapak tidak perlu membanting tulang mengurus sawah milik orang lain.”
Mak tersenyum simpul mendengar celoteh anaknya. Dia segera membuka lemari dan menyimpan lipatan baju yang dibawanya.
“Kamu mau punya sawah sendiri?” tanya Mak, tidak percaya pada pendengarannya. Kenanga menganggukkan kepalanya.
“Saya ingin membeli sawah untuk Mak dan Bapak,” Kenanga mencoba menepis keraguan di hati Mak.

Hamparan sawah (https://pixabay.com/id/illustrations/ai-dihasilkan-sawah-lapangan-teras-8814121/)

Mak berdehem melihat kepala Bapak muncul di ambang pintu.
“Tampaknya ada pembicaraan serius nih,” Bapak menggoda anak gadisnya yang tersenyum manja.
“Anakmu mau punya sawah sendiri untuk kita garap bersama-sama. Kenanga kurang senang melihat kita menggarap sawah milik orang lain,” Mak menyampaikan laporan lengkap pada Bapak. Kening lelaki paruh baya itu mengerut kaget mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Mak.
“Harga sawah sangat mahal, uangnya darimana jika kamu mau punya sawah sendiri? Alhamdulillah Pak Haji masih memercayakan kita menggarap sawah miliknya. Anakku, kita orang miskin, mana mampu beli sawah sendiri. Makan tiga kali sehari sudah luar biasa.”
“Bapak gimana sih, tidak senang melihat anaknya punya cita-cita,” Kenanga merengut mendengar jawaban Bapak. Semangatnya yang berkobar laksana nyala api langsung padam bagaikan tersiram air es. Mak menggigit bibirnya kuat-kuat, pandangan matanya menyapu sebuah gambar pemandangan sawah yang menghias dinding kamar anaknya, Perempuan yang melahirkan Kenanga mencoba memaknai kata miskin yang terlontar dari mulut suaminya.
“Alangkah sedihnya jika orang miskin tidak boleh punya cita-cita setinggi langit,” Kenanga menggumam sambil mengorek kusen jendela yang mulai rapuh dimakan rayap. Dilihatnya banyak sekali kotoran rayap menumpuk di sela-sela gerekan kayu rusak.
“Kamu boleh bercita-cita, namun tetap waraslah. Jangan lupa kaki kita masih menginjak tanah. Lihat disana, masih banyak orang yang lebih kekurangan daripada keluarga kita,” Bapak mencoba memberi pengertian pada Kenanga.
“Gimana dong Mak, aku pengen punya sawah seperti teman-teman sekolahku. Mereka bebas memelihara ikan dan menanam aneka kacang-kacangan di tegalan sawahnya. Aku merasa tidak nyaman, Pak Haji selalu keberatan jika kita melakukan sesuatu di luar perintahnya.”
Mak dan Bapak terkesima mendengar jawaban Kenanga. Mereka seakan sadar dari mimpi bahwa dirinya masih terjajah oleh orang yang lebih tinggi derajat ekonominya. Apa yang harus dilakukan Kenanga untuk mewujudkan impiannya?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *