Secara umum pandangan awam menyebutkan bahwa hewan tidak mempunyai intelegensi layaknya manusia. Memang benar pendapat itu karena hewan yang hidup dimuka bumi menjalankan semua aktivitasnya berdasarkan pada kepekaan nalurinya. Tetapi tahukah anda, sistem pengantaran online yang saat ini digunakan oleh mas atau mbak ojol merupakan adopsi kecerdasan buatan semut dalam mencari sarangnya. Sungguh luar biasa rahasia alam semesta berbasis teknologi yang dapat diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari.

Dinamika kecerdasan hewan di alam semesta merupakan suatu fenomena yang sangat menarik untuk dibicarakan. Topik ini telah dibahas dalam event virtual Profesor ITS Berbincang dengan menghadirkan keynote speaker Prof. Imam Robandi yang menjabat sebagai Ketua Dewan Profesor ITS sekaligus founder of IRo Society. Acara yang penuh dengan keilmuan dan silaturrahim tersebut dibuka oleh Prof. Agus Rubiyanto, berperan sebagai host. Beliau membuka acara dengan pantun disambung salam hangat menyapa ramah semua peserta. Prof. Prabowo sebagai Sekretaris Dewan Professor ITS  membawakan sambutan singkat dengan penekanan kegiatan virtual ini merupakan diskusi tentang tema populer maupun penelitian yang diharapkan memberikan kontribusi ke pembangunan nasional.

Sejak terjadinya pandemi Covid-19, manusia yang hidup dalam kelompok masyarakat diharuskan untuk bersikap soliter dalam mengantisipasi penyebaran penyakit mematikan tersebut. Hal ini dikemukakan  dalam sesi diskusi antara peserta dan keynote speaker. Semboyan bersatu kita teguh sudah mulai pudar karena adanya protokol kesehatan yang menghendaki setiap individu menjaga jarak satu sama lain. Fenomena mengerikan lainnya adalah timbulnya sikap paranoid dan seringkali berburuk sangka (dalam hati) jika kebetulan bertemu dengan seseorang yang batuk atau bersin.

Kemampuan berkoloni dan tolong menolong telah lama dikenal dalam dunia hewan. Sebelum topik menarik ini dipaparkan secara mendalam oleh Prof. Imam Robandi sebagai keynote speaker tunggal, secara menarik Prof. Agus Rubiyanto menceritakan masa kecil Prof. Imam Robandi yang multi talenta. Kepiawaian Prof. Imam Robandi dalam menyanyikan lagu berbagai bahasa menurun dari ayahnya yang suka menyanyi. Keahlian Prof. Imam Robandi bermain musik berasal dari ibunya karena sering dibawa ke kondangan. Disanalah Prof. Imam yang mempunyai bakat seni belajar memainkan gamelan, gendang maupun kenong yang digunakan dalam acara tersebut. Sebagai wujud kecintaannya pada budaya Indonesia, Prof. Imam Robandi membawa wayang dan gamelan ke Jepang yang disajikan dengan sangat spektakuler di negeri matahari terbit itu.

Di dalam presentasinya yang memukau, Prof. Imam Robandi bercerita bahwa  burung yang telah lama dipelihara dalam sangkar secara soliter  memerlukan waktu sekitar lima tahun untuk berkoloni dengan sesamanya setelah dilepas liarkan ke habitatnya. Selain itu, kejuaraan catur selalu dilatih secara personal atau soliter sehingga menimbulkan kecenderungan sulit untuk bekerja sama dalam olahraga khususnya sepak bola. Olahraga yang mengandalkan kemampuan berlari ini selalu dilakukan secara berkelompok. Sesuai pergeseran  zaman yang semakin dinamis, telah terjadi koloni manusia dengan barang karena bangun tidur langsung melihat ponsel. Sikap seperti ini adalah gambaran kurang peduli dengan lingkungan sekitarnya.

Mengapa semut dan lebah dapat mempertahankan koloninya mulai dari zaman purba sampai hari ini?berdasarkan hasil penelitian para pakar entomologi, serangga-serangga cerdas tersebut menghasilkan berbagai senyawa kimiawi spesifik dinamakan feromon yang digunakan sesuai dengan kebutuhannya. Sebagai contohnya adalah trail pheromone untuk mengikuti jejak kawanannya dalam mencari makanan, alarm pheromone untuk mengantisipasi terjadinya bahaya dan berbagai spesifikasi feromon lainnya. Kebiasaan hidup dalam koloni atau berkelompok ini dapat dilihat pada kehidupan anak sekolah di Jepang. Mereka berangkat sekolah berbarengan naik bus. Di dalam kelompok itu ada seorang anak menjadi ketua yang bertanggung jawab memperhatikan keberadaan anggota di dalamnya. Sifat bermasyarakat seperti ini telah menjadi budaya dan ditanamkan sejak dini. Adanya acara barbeque atau gathering semakin mempererat hubungan dan komunikasi di dalam kelompok tersebut.

Prof. Imam Robandi melengkapi pemaparannya dengan formula spesifik berupa deretan persamaan yang mampu mengobrak abrik otak sekaligus mengucurkan keringat dingin. Namun demikian, dengan santainya Prof. Imam Robandi mengingatkan bahwa dalam menjalani kehidupan nyata, terdapat  hal-hal tertentu yang tidak perlu dipahami pada saat itu. Bagaikan makan durian Monthong yang harganya mahal, hanya daging buahnya yang dinikmati sedangkan kulitnya yang berduri tajam dibuang saja. Begitulah matematika dan prioritas dalam kehidupan. Setiap individu mempunyai kemampuan berbeda di dalam memahami dan menyerap suatu bidang ilmu sekaligus menyingkap rahasia Ilahi yang tersirat di dalam setiap  fenomena alam.

Seperti halnya serangga di alam, lebah madu yang ditakdirkan abnormal atau “kurang cerdas” akan sulit beradaptasi di dalam koloninya. Pergerakan koloni yang sangat dinamis menghendaki semua anggotanya dapat mengikuti ritme kehidupan yang dilakukan secara berkelompok. Adanya pembagian tugas secara detil menimbulkan rasa kebersamaan dalam mengelola kehidupan di dalam koloninya. Anggota yang lamban akan tersingkir seiring dengan berjalannya waktu. Hal ini dijumpai pada kematian sejumlah besar pejantan lebah saat tiba musim paceklik. Lebah jantan tugas utamanya hanya mengawini ratu lebah dan tidak mampu mencari makanan sendiri. Sifatnya yang lamban hanya menunggu suapan makanan dari lebah pekerja. Saat cadangan makanan berkurang akibat musim kering berkepanjangan, para pekerja “tega” melemparkan lebah jantan keluar dari sarang dan menganggap tugas mulianya telah selesai di muka bumi. Para lebah jantan yang tereliminir hanya mampu bersedekap pasrah di atas tanah, menunggu datangnya kematian dalam kondisi kelaparan. 

Fenomena burung gila atau plaintive cuckoo, merupakan fenomena unik lain menggambarkan kecerdasan yang salah tempat karena terdapat rasa “tega” mengorbankan kehidupan burung lain yang “kurang cerdas”. Adanya parameter yang digunakan oleh burung cuckoo dalam menentukan kelayakan sarang untuk ditumpangi telurnya mencakup jarak antar sarang dengan habitat aslinya. Artinya burung cuckoo tidak mau menitip telurnya pada sarang yang letaknya terlalu jauh. Feelingnya sangat tajam karena burung dengan sejuta kelicikan ini harus berupaya keras mendapatkan sarang berisi telur burung yang tidak update alias berintelegensi rendah. Tanpa perasaan, induk burung cuckoo ini menendang telur milik empunya sarang dan digantikan oleh telurnya sendiri. Pemilik sarang yang positive thinking merasa sah-sah saja mengerami butiran telur yang dikira miliknya sendiri. Kecerdasan yang tampaknya tidak berperikehewanan ini adalah dampak dari burung cuckoo betina yang senang berganti pasangan. Para pejantan cuckoo akan terbang jauh setelah mengawini burung betina. Para pejantan merasa tidak perlu bertanggung jawab membangun sarang dan mencari makan untuk keturunan yang dihasilkannya. Inilah alasan induk burung cuckoo mencari induk semang untuk keturunannya. Sifat buruk ini terus terbawa bagaikan aliran darah yang selalu mengalir tanpa henti di dalam tubuh burung cuckoo tersebut. Saat menetas duluan, anak burung cuckoo meneruskan kebiasaan buruk induknya dengan mendorong semua anak burung pesaingnya keluar dari sarang sehingga sang induk semang hanya menghidupi anak  titipan tersebut. Tipikal makanan kedua jenis burung tersebut adalah serangga. Anak burung cuckoo yang menjadi penguasa tunggal memonopoli perhatian dan memaksa induk burung pemilik sarang mencari makan tanpa henti untuknya. Anak burung titipan ini mampu membuat induk semangnya kurus kering dan lemah karena sifat rakusnya tersebut.

Hakikat manusia adalah belajar dari hal sederhana dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Manusia adalah makhluk cerdas dan mampu mengatasi setiap masalah. Adanya artificial intelligence technology atau kecerdasan buatan berdasarkan pola dan tingkah laku hewan membawa manusia kepada kesejahteraan hidup. Strategi cerdas penemuan gula ala semut di rumah memberikan kontribusi efisiensi waktu dalam penemuan lokasi tertentu yang menjadi target pencarian. Acara virtual yang sangat bersahabat ini diakhiri dengan ucapan salam dan saling bermaafan menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Terima kasih tak terhingga kepada Prof Imam Robandi dan anggota Dewan Professor ITS atas kesempatan yang telah diberikan untuk hadir di acara ini (srn).

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!
👋 Hi, how can I help?