Perjalanan ke luar kota selalu terasa sangat menyenangkan walaupun harus ditempuh dengan menaik mobil dalam waktu yang lama. Sambil menikmati pemandangan alam, kita dapat bersyukur diberikan kepekaan dan berbagai macam indra untuk menikmati ciptaan Allah Subhana Wa Ta’ala. Hari Jumat dan Sabtu tanggal 16-17 Juni 2023, saya bersama dosen dan pegawai Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan (HPT), Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Kabupaten Soppeng. Kegiatan ini merupakan rutinitas yang dilakukan setiap semester dengan tujuan transfer teknologi dari Perguruan Tinggi kepada petani yang tinggal di pedesaan. Hal ini merupakan poin ketiga kegiatan yang termasuk dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Sesuai dengan perjanjian dalam WAG, dosen dan pegawai HPT yang akan melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat diminta berkumpul di meeting point (tempat parkir Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin).

Saat saya tiba di meeting point pada jam 07.55 wita, suasana sudah sangat ramai dengan mahasiswa berjas merah (peserta kegiatan praktik lapang). Mereka memakai jas merah sebagai penanda mahasiswa Universitas Hasanuddin. Terdapat tiga buah bis pariwisata yang telah parkir dan siap mengangkut penumpang ke tujuan. Beberapa orang dosen dan pegawai tampak bercanda sambil bersarap nasi kuning di teras Fakultas. Jarak dari Kota Makassar ke Kabupaten Soppeng sekitar 160 km. Rombongan kami meninggalkan kota Makassar sekitar jam 09.00 wita. Sesuai dengan rundown, rombongan dosen diupayakan tiba di Kabupaten Soppeng sebelum sholat Jumat. Perjalanan menuju ke Kabupaten Soppeng terasa menyenangkan karena cuacanya agak mendung. Kami melewati Bulu’ Dua yang menyajikan pemandangan indahnya hamparan gunung karst yang sangat ideal untuk olahraga climbing wall. Bis melaju cepat untuk mengejar waktu solat Jumat menyebabkan sopir tidak bersedia singgah di beberapa spot menarik untuk mengambil foto. Saya harus menelan rasa kecewa dan membiarkan sepasang mata saya menjadi saksi bisu keindahan gunung karst yang saya lihat di sepanjang perjalanan. Perjalanan terasa sunyi senyap karena tidak ada yang bersuara. Saya menuliskan catatan kecil dalam ponsel sebagai ‘pondasi’ untuk menulis artikel di professional website milik saya. Saya memandang berkeliling, hanya jejeran rumah panggung dan hamparan sawah nan hijau terlihat di sepanjang jalan. Sekitar jam 11.00 wita, bis yang saya tumpangi memasuki Kota Soppeng. Kota Soppeng identik dengan keberadaan ratusan ekor kelelawar. Terdapat cerita yang beredar di masyarakat menyebutkan bahwa kelelawar itu mencari makan ke Kabupaten Wajo dan Kabupaten lainnya di luar Soppeng. Menurut beliefs masyarakat, adanya hukum ‘pamali’ berakibat kematian berlaku untuk kelelawar yang nekad merusak buah-buahan di kampungnya sendiri. Saat itu siang hari dan tidak seekorpun kelelawar ditemukan terbang di angkasa karena mereka bersifat nokturnal (hanya beraktivitas di malam hari). Saat bis kami melewati Masjid Raya kota Watan Soppeng, saya melihat beberapa pohon hijau yang tumbuh di halaman masjid nyaris berwarna hitam dipenuhi kelelawar yang bergelantungan. Tampaknya koloni kelelawar itu merasa nyaman melakukan istirahat dan saya meyakini bahwa batin hewan itu pasti menyenangdungkan pujian untuk Allah Subhana Wa Ta’ala dengan bahasanya sendiri. Sekali lagi saya harus merasakan pedih karena sopir bis menolak singgah untuk mendokumentasikan rombongan kelelawar. Perjalanan terus berlanjut menuju meeting point untuk makan siang di Masjid Raya Takkalalla.

Setelah solat Jumat, rombongan kami bertemu dengan Wakil Bupati Soppeng, Kepala Dinas Pertanian dan petani jagung. Disitu dilakukan presentasi dua orang dosen (Prof. Tutik Kuswinanti dan Prof. Itji Diana Daud),  perjalanan dilanjutkan menuju ke hotel Haka Lejja. Jarak tempat pertemuan di daerah Mario Riwawo ke Lejja sekitar 30 km. Perjalanan kembali dikebut karena langit sudah beranjak gelap dan antisipasi jalanan rusak menuju Lejja. Alhamdulillah ya Allah, terucap dalam hati saat bis masuk ke dalam pekarangan hotel. Saya segera mencari kunci  kamar untuk menyimpan baju dan bersiap makan malam yang telah terlambat. Makanan malamnya terbilang ‘mewah’ untuk daerah terpencil karena ada sajian ikan nila bakar, nila goreng, tahu goreng, sayur kelor dan berbagai makanan tradisional lainnya. Malam itu saya habiskan seorang diri dengan tertidur pulas dalam kamar deluxe yang menonjolkan gaya Jepang.

Kubuka lembaran hari Sabtu pagi nan indah di Soppeng. Kurang dua menit jam 06.00 pagi waktu Makassar, saya bergabung ke living room hotel Hakata Lejja. Ini adalah tipikal hotel berinterior Jepang yang sangat menonjolkan rasa kekeluargaan. Ciri khasnya adalah menyajikan makanan tradisional untuk para tamunya. Singkat cerita, pagi nan indah sebelum beraktivitas dosen HPT dimulai dengan bersarap rober alias roti berre (berre adalah beras dalam bahasa Bugis). Roti berre atau roti beras terbuat dari pisang matang yang telah diblender sampai halus, gula pasir, tepung beras, sedikit garam, soda kue dan ragi. Adonan itu dicampur dengan baik menggunakan spatula dan dipanggang dalam cetakan kue lumpur. Menilik dari bahannya, saya menyimpulkan bahwa ini adalah pancake khas suku Bugis. Rasanya sangat nikmat, gurih  dan sehat karena tidak mengandung banyak minyak. Cara makannya dengan dicocol pada gula merah cair (yang enaknya dobel jika ditambah dengan potongan daging buah durian).

Berdasarkan rundown yang dibagikan dari panitia pelaksana kegiatan, jadwal acara di hari Sabtu adalah berendam di kolam air panas Lejja. Setelah itu dilanjutkan dengan pertemuan kembali dengan Wakil Bupati Soppeng, Kepala Dinas Pertanian dan petani padi. Perjalanan panjang dari kota Makassar menuju ke Kabupaten Soppeng membuat seluruh badan terasa lelah. Tampaknya berendam di kolam air panas Lejja merupakan solusi menghilangkan segala penat yang melanda tubuh. Lokasi Pemandian Air Panas Lejja terletak di kawasan hutan lindung Desa Bulue, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Berdasarkan Google maps, tempat ini berjarak sekitar 14 km dari pusat kota Marioriawa. Jarak dari hotel ke kolam air panas Lejja sekitar 3 km.  Setelah memarkir mobil, saya berjalan menuju ke pintu masuk. Di sepanjang jalan berjejer kios bertenda yang menawarkan makanan, minuman, baju kaos dan aneka souvenir sederhana untuk pengunjung. Di dalam areal wisata, terdapat empat buah kolam penampung air panas yang suhunya berbeda. Bentuk kolamnya sangat standar tidak seperti onsen di Jepang yang sangat artistic. Untuk kaum awam, cukuplah fasilitas itu karena sumber daya alam ini dapat digunakan untuk menambah pendapatan daerah. Menurut cleaning service lokal, sumber air panas kolam itu berasal dari sungai berbatu yang berada di balik rimbunan pohon.  Di sekeliling kolam air panas terdapat beberapa vila berbentuk rumah panggung kayu yang disewakan untuk pengunjung. Ada pula gazebo kecil untuk pengunjung leyeh-leyeh setelah berendam.

Ternyata berendam di air panas membuat tubuh terasa sangat berat. Saya merasakan nafas saya agak sesak saat masuk ke dalam kolam air panas. Sesaat kemudian, saya merasakan denyut pembuluh darah naik turun dan timbul rasa nyaman luar biasa. Masya Allah, limpahan air mengandung belerang ini terasa sangat luar biasa dan saya sangat bersyukur dapat menikmati keindahan bentang alam itu. Onsen from local areas in South Sulawesi it is very amazing. It is my unforgettable journey for community service in Soppeng Regency (srn).

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!
👋 Hi, how can I help?