Umumnya sekuntum bunga identik dengan keindahan warna dan semerbak bau mewangi. Seperti yang telah tergurat di dalam catatan perjalanan beredarnya nyawa di muka bumi, sekuntum bunga tidak dapat memilih takdir hidup yang bakal dijalaninya. Allah Subhana Wa Ta’ala telah menciptakan bunga mawar berwarna indah memikat mata, berbau harum dilengkapi sederet duri tajam untuk memberikan shock terapi kepada makhluk nakal yang berniat mengganggunya. Lain ceritanya dengan bunga bangkai Rafflesia arnoldi yang hidup di tanah Bengkulu. Bunga Rafflesia telah menjadi kebanggaan masyarakat kota yang terkenal sebagai tempat pengasingan Sang Proklamator Ir. Soekarno. Bunga yang habitatnya di hutan tropis mempunyai bentuk dan warna spektakuler. Sayangnya sang bunga ditakdirkan berbau busuk sehingga sangat disukai oleh lalat, serangga kecil yang identik dengan lingkungan jorok. Tumbuhan kantong semar (periuk monyet) memikat serangga calon sumber nutrisinya  dengan pancingan sedikit aroma manis yang dihasilkannya dalam kantong. Serangga yang tertarik akan terpeleset dan jatuh ke dalam cairan mengandung asam yang mencerna tubuh serangga supaya mudah diserap mineralnya oleh tumbuhan. Betapa adilnya Allah Subhana Wa Ta’ala, setiap bunga mempunyai fans sendiri yang begitu terpukau dengan keindahannya. Begitupun dengan lapak penjual di pasar terapung yang tersebar di perairan Kalimantan. Semuanya telah mempunyai rezeki tersendiri dan tidak tertukar satu sama lain.

Sri Nur Aminah (2020)

Prof. Imam Robandi, Sensei founder IRo Society, sangat identik dengan keindahan dan rasa dari berbagai tempat. Beliau telah menuliskan untaian kalimat yang sukses mengobrak abrik isi sanubari: Tuhan menciptakan keindahan yang tiada banding untuk tanah air kita. Jutaan keindahan Indonesia yang tidak sempat kita nikmati. Banyak kesibukan sehingga kita tidak sempat menikmati Indonesia. Hati yang mati karena tidak terasah untuk menikmati keindahan. Kebutuhan kebahagiaan hati masih kalah penting dengan kebutuhan lapar dan haus. Kita menjadi orang yang tidak pandai bersyukur.

Terkait dengan keindahan dan rasa, acara daring Kajian Spesial Jumat Malam (KSJM) yang digelar pada tanggal 6 November 2020 menghadirkan Prof. Imam Robandi dan Prof. Suzy Suhendra, Pengurus Asosiasi Profesor Indonesia dan Guru Besar Universitas Gunadarma. Judul KSJM-nya sangat menarik yaitu: Kehidupan harmoni lereng Tengger, keindahan Bromo dan panorama Nusantara.  Bunga krokot warna warni yang saya ambil gambarnya dari layar laptop merupakan kesayangan Prof. Suzy. Bebungaan ini hidup bersama menikmati nutrisi dan cahaya matahari secara damai di dalam sebuah pot. Gerombolan bunga indah ini asyik menari seiring sapaan merdu dan siraman air setiap hari dari sang mahaguru nan cantik itu. Segelintir orang mengatakan walaupun sedap di pandang mata, bunga krokot adalah lambang sifat pemalas karena berbunga tepat jam sembilan pagi (menurut WIB, WITA, WIT). Kepercayaan kental beredar di masyarakat Indonesia adalah saat matahari sudah tinggi, kebanyakan rezeki sudah dijemput oleh orang-orang hebat  memulai aktivitasnya sejak dini hari. Ibarat datangnya panggilan untuk kembali ke haribaan sang Pencipta, waktu mekarnya bunga krokot indah ini tidak dapat dimajukan atau dimundurkan. Suatu hal yang terus berlangsung secara terus menerus walaupun krokot ini ditumbuhkan di dalam pot bunga emas atau tanah liat, tetap saja berbunga jam sembilan pagi. Selain bunga krokot, sepupu jauhnya yang bernama Mirabilis jalapa, si bunga pukul empat juga merekah kelopaknya secara tepat waktu sesuai dengan jadwalnya masing-masing. Biological clock yang super peka rakitan Allah Subhana Wa Ta’ala berfungsi begitu sempurna dalam menjalankan tugasnya membangunkan kelopak bunga cantik yang pulas terlelap di dalam puluhan kuncup mungil. Tidak peduli hari itu kering kerontang atau badai cetar membahana, bunga hebat ini tetap menjalankan biological clock-nya tanpa kenal kata macet atau rusak.

Sri Nur Aminah (2020)

Keuntungan lainnya, tanpa diminta oleh siapapun, tanaman krokot sebagai penghasil bunga keren dan spektakuler ini telah berkontribusi sebagai penghasil oksigen dan pengobat mata gratis untuk siapapun yang memandangnya. Tanaman yang hidup di dalam pot, tepi selokan, sawah maupun hutan nan rimbun tetap melaksanakan fotosintesis. Terus bekerja secara aktif saat hujan dan panas memanfaatkan curahan percuma sinar matahari tanpa mengharapkan pujian dari siapapun. Tumbuhan di seluruh dunia terus, terus dan terus beraktivitas menghasilkan manfaat sampai tiba masanya kembali ke haribaan Ilahi (srn).

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!
👋 Hi, how can I help?